Oleh: masdiloreng | April 3, 2009

Syair-Syair Robbani

MEMBONGKAR NILAI KESAMAAN SYAIR ROBIAH DAN ABUNAWAS DALAM MENGINTERPRETASI TUHAN

Memang benar apa yang difirmankan. Bahwa Tuhan menjadikan makhluk yang paling sempurna dimuka bubumi bahkan dibandinkan dengan ciptaanya yang lain. Tuhan memberikan potensi kepada manusia yang tidak pernah diberikan kepada makhluk ciptaan lainya agar dapat berdekatan. Dalam bahasa siti jenar manunggaling kawulo gusti. Bahasa al-hallaj wahdatul wujud.Dengan segala kelebihannya ternyata manusia dapat membuktikan sebagai insanul kamil seperti Rasulullah, sebagai suri tauladan yang tidak hanya bagi kalangan satu kaum saja akan tetapi semua lapisan masyarakat diseluruh penjuru dunia dan disemua masa.

Bahkan Rasul sempat dujuluki sebagai Al-Qur’an yang berjalan, karena memang beliau lah orang pertama yang menerima langsung wahyu yang berupa Al-Qur’an dari Allah melalui Roh Kudus (Jibril). Dan apa yang disampaikan dan perbuat Rasul tidak jauh dari nilai-niali yang terkandung dalam Al-Qur’an. Dengan segala Rohmatnya Allahpun menjamin utusannya itu masuk surga, meskipun Allah sudah menjamin Rasul masuk surga bukan berari Muhammad sebagai utusannya melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai seorang makhluk dan hamba.karena bagaimanapun mulianya seorang hamba masih dibawah tuannya dan tuanya Muhammad adalah Tuhan yang maha pencipta. Jadi tidak salah sebagai seorang hamba meskipun sudah mendapatkan remisi dari Tuhan Muhammadpun tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba dan seorang utusan. Beliau tetap menjalankan sholat fardu bahkan tidak akan perna meniggalkan sholat sunat hingga akhir hayat beliau.

Maka tak heran jiak para ulama baik itu dari kalangan sufi seperti Robi’ah mencontoh bagaimana Muhammad menghambakan diri meskipun sudah mendapatkan tiket masuk surga. Jadi apa yang dilakukan seorang Robiah dan Abu Nawas dalam ungkapan syairnya tidak lebih sebagai seorang hamba yang menunjukkan ketidak berdayaanya dihadapan Tuhannya. Sebagai seorang sufi yang sekaligus mantan penyanyi (maaf lebih baik mantan napi dari pada mantan kyai) maka tidak heran jika robiah pandai bersyair. Sehingga syairnya sampai sekarang masih sering kita dengar baik dalam sebuah kajian sufi maupaun lagu Dewa/Crisye.yang tidak kurang lebih bunyinya Jika Surga dan neraka tak perna ada masihkah kau sujud kepadanya.

Ternyata apa yang dilakukan seorang robi’ah sama halnya dilakukan oleh abu nawas lewat ungkapan syairnya Tuhan aku tak pantas masuk surgamu dan juga tak kuat masuk nerakamu. Ini adalah ungkapan seorang hamba denan segala kejujuran dan keluguannya bahwa seorang Abu nawas dan Robi’ah merasa terhina didepan Tuhannya sehingga apa yang diungkapakannya sangatlah pantas sebagai pembuktian seorang hamba yang tidak luput dari segala kehilafan dan menghadirkan diri dalam syair-syair Robbani.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: