Oleh: masdiloreng | April 3, 2009

MEREFLEKSIKAN LAGI KESADARAN KADER GERAKAN

Gelisah,mungkin itulah yang sekarang masyarakat akar rumput sekarang terhadap perkembangan politik dewasa ini, lebih-lebih para elit politik Apa yang bisa diperbuat untuk para kader sekarang ketika melihat para panutan mereka saling tinju diatas reng politik, tidakkah para elit politik yang notabenenya para jenderal, cendikia, ulama, dan lain sebagainya pernah bilang ketika masa kampanye dulu dengan berbagai janji dan kontrak politik, tapi apa yang bisa diperbuat, mereka tidak lebih dari perampok Negara dengan segudang kasus korupsi dan begitu juga pemerintahnya tidak mampu memberikan hukuman yang membuat mereka jerah dengan tindakanya yang merugian uang Negara itu. Lalu sebagai kader gerakan, sampai dimana peran peran mereka mengawal rakyat dan cita-cita bangsa ini.

Ketika masyarakatnya dilanda maha dilema ini. Masihkah mereka memperjuangkan rakyat yang sedang kebingungan itu atau justru para kadernya juga tenggelam dalam eforian pesta politik, bukankah mereka adalah kaum intelektual yang seharusnya membawa aspirisai rakyatnya. Bukan malah mengikuti arus politik yang seharusnya dihindari lebih dulu agar tidak terjebak oleh oknum-oknum yang memanfaatkannya, karena para kader terutama para aktifis sangat riskan keberadaanya dimusim-musim pemilu. Sebagai kaum intelektual akademik tentu saja banyak keuntungan bagi yang memanfaatkan. Walaupun hanya sekedar tukang nempel gambar partai dan tokoh politik.

Ketika pergerakan anak muda sering berbicara intelektualitas,namun pada saat yang sama mereka kadang-kadang tidak jelas identitasnya, klaim ini didasarkan karena bangsa Indonesia tidak mampu memberikan kepastian terhadap dirinya sendiri,masih jauh untuk disebut sebagai negara demokrasi. Jadi para kader gerakan dipaksa beronani politik.bukankah Gramsci Mengatakan demi sebuah perubahan kearah yang lebih baik, maka harus dikatakan bahwa semua orang adalah intelektual.Ternyata apa yang dikatkan Gramsci nihil ditubuh para kader sekarang, hal itu tidak lain karena para kader muda masih muda dimanfaatkan orang-orang yang berkepentingan atau para kader yang haus dengan jabatan penting dalam wilayah birokrasi dan politik. Aktifis Mahasiswa adalah intelktual, tapi apakah mereka sekarang memerankan itu. Kalau pun ada masih sedikit sekali para kader yang benar-benar berproses untuk menjadi seorang intelek, kalau kita menengok sejarah dimana Gerakan mahasiswa 66 yang berjuang untuk membasmi komunis bersama-sama dengan komponen bangsa baik termasuk rakyat, militan, isu tunggal yang diambil adalah jelas, anti komunis hingga berhasilah pemerintah baru (ORBA) menunjukkan taringnya dan semua itu tidak menafikan perjuangan para kader bangsa (pemuda).

Selanjutnya dengan pengorbanan dan segala bentuk tanggung jawab sosial para kader muda mampu menggulingkan penguasa tiran yang telah merusak cita-cita bangsa karena Ketika kekuasaan tidak dikontrol oleh yang memberi,niscaya tak lama ia akan segera menjadi bumerang yang menikam balik otoritas kekuasaan muncul dan rakyat tertindas. Memang semua butuh kesadaran terutama para kader gerakan yang merasa masih menjadi mahasiswa sejati, sebagai penyambung lidah dan tetap konsisten diwilayah perjuangan Kesadaran harus dibangun beriring dengan pembangunan demokrasi Indonesi, kesadaran yang kritis dan utuh seperti yang ditunjukkan Paulo freire (1970) bahwa mesti ada kesadaran yang utuh, yang mengacu pada sebuah proses dimana kita bukanlah yang resipen umum saja, sebagai obyek saja, sebagai partisipan saja, namun sebagai subyek yang mengetahui dan menyadari secara mendalam realita sosio cultural (dan politik) yang membentuk kehidupan bangsa ini. Kesadaran dan kewaspadaan ini penting dirumuskan saat ini,biar gerakan mahasiswa tidak larut dalam pesta politik yang demokratis sekarang mengapa.?sebab orang perancis seperti Merleau Ronty mesti membutuhkan bertahun-tahun untuk menyadari bahwa ada kekejaman dinegerinya,bahkan Sarte pun baru sadar setelah bertahun-tahun penindasan yang kejam terjadi di Rusia zaman Stalin.

Kesadaran kritis yang disebut Goldman dalam Gabriel marcel (1962) sebagai puncak potensi kesadaran ini mesti dikembangkan seiring dengan proses demokrasi dinegeri ini.penyelamatan idealisme gerakan harus segera dilakukan dikemudian hari, kita tidak lagi ingin melihat orang-orang seperti SOC HOR GIE (catatan harian seorang demonstran) yang lantas benci kepada kawan-kawan angkatan 66 yang dengan muda menjual idealisme pada rezim ORBA. Penyelamatan idealisme mahasiswa adalah urgen dan fundamental bagaimana.? Organisasi-organisasi yang yag mempunyai kader,seperti kita di PMII,misalnya maka para alumni demonstran itu masih dikontrol dengan perangkat-perangkat organisasi yang ada. apakah prilakunya ketika dia sudah msuk system kekuasaan atau diluar masih setia memperjuangkan rakyat atau tidak.disinilah peran penting manajemen pelapisan kader aagr tidak terjadi dikotomi perjuangan ,yang dengan demikian mematikan radikalisme gerakan mahasiswa hari ini. Salam Pergerakan.

Penulis adalah aktifis tafsir muda semester 4 Rayon Farid Essack STAIN PO


Responses

  1. potone koyo tau weruh nek tipi-tipi, barokahe mas yus yang caem habis.

  2. kakak ini adek, wah ternyata tulisan kakak q bagus banget ya……………….. kakak cocok banget jadi seorang penulis atau jurnalis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: