Oleh: masdiloreng | April 3, 2009

Menulis apaan Tuu!!!!

Tuhan memberikan wahyu yang pertama pada nabi Muhammad adalah dengan kata Iqra’ (Bacalah). Tuhan menyuruh Muhammad membaca. Dan apa yang akan dibaca Muhammad tidak lain adalah ayat-ayat Tuhan. Baik yang tertulis maupaun yang tidak tertulis Kauniyah, anggap saja dunia ini adalah lembaran yang harus kita abaca, baik itu berupa Gunung, laut, bumi, langit, udara, dan lain sebagainya.

Setelah kita membaca tentu rasanya kurang lengkap jika kita tidak menulisnya, karena dengan tulisa apa yang kita ketahui tidak akan hilang. Semua manusia setelah membaca apapun, entah itu persoalan agama, politik, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain-lain tentu akan melahirkan gagasan-gagasan yang terpendam dalam diri manusia tersebut, dan jika gagasan tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan maka bukan tidak mungkin kita telah melahirkan karya kreatif yang bias dibanggakan.

Setiap manusi terlahir sudah dilengkapi oleh Tuhan dengan berbagai potensi dan bakat tertentu sebagai anugerah-Nya. Bakat tadi masih bersifat potensial yang perlu dipupuk, dibina, dilatih, dan dikembangkan. Dengan demikian, bakat yang masih terpendam tadi dapat dikembangkan secara optimal dan maksimal dengan melalui berbagai latihan. Begitupun dengan bakat menulis atau mengarang, ia akan lebih terarah dan akan lebih baik perkembangannya kalau ditempa melalui berbagai latihan dan pembinaan secara berkesinambungan.

Dalam menulis jangan perna berfikir bahwa tulisan saya jelek, tulisan saya tidak berbobot, tidak bermutu, karena semuanya butuh proses, kata gus dur kita tidak akan bisa sampai pagi tanpa melewati malam dulu. Seorang bayi tentu tidak akan langsung minum kopi melainkan ASI, karena semua butuh proses. Begitu juga menulis, kita tidak langsung mengarang sebuah kitab, kita juga tidak langsung menulis dalam sebuah majalah, kita juga tidak langsung membuat artikel langsung satu halaman.namun jika kita sudah benar-benar berproses dan berusaha bukan tidak mungkin kita juga bisa membuat artikel, membuat buku, menerbitkan majalah dan lain sebagainya.

Kita jangan beranggapan bahwa dengan menulis kita akan menjadi kaya, karena buku kita akan dibeli orang jika laku, rata-rata seorang penulis tidak akan kaya dari profesi menulisnya. Karena yang kaya bukan penulis melainkan penerbit. namun kita akan mendapatkan kepuasan batin yang tidak pernah dirasakan orang lain karena tulisan kita dibaca dan dinikmati orang. Dengan menulis kita bisa dikenal meski kita tanpa memperkenalkan diri, karena sepandai apapun seseorang jika tidak perna menulis maka tidak akan dikenang oleh sejarah, contohkanlah seorang ulama’ besar seperti al-Ghozali meskipun beliau sudah wafat sekian abad tapi karya beliau masih dikenang dan seakan-akan al-Ghozali ini hidup, atau tidak jauh-jauh dinegeri kita sendiri kita mengenal Pramoedya ananta toer, Nurcholis Majid,KH. Zainal Arifin Toha, dan sebagainya. Meskipun mereka sudah tiada, namun karya beliau-beliau masih dibaca dan dikonsumsi banyak orang. Semoga kita semua segera menuangkan gagasan kita dengan menulis dan mau mengikuti jejak para penulis diatas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: