Oleh: masdiloreng | Maret 27, 2009

Belajar menulis dari Gus Zen (Catatan dari seorang penulis amatir)

Kalau kamu bukan anak raja kalau kamu’ bukan anak ulama’ besar jadilah peulis.

Begitulah dawuh Gus zainal salah satu pengasuh pondok pesantren khusus mahasiswa di Yogyakarta yang masih teringat dibenakku waktu mengikuti bedah buku “99” kiyai nusantara sekaligus diklat sastra di Tuban pada tahun 2004. Memang benar apa yang dikatakan kyai yang sekaligus penulis buku runtuhnya singgasana kyai itu, Jangankan menjadi Raja atau presiden jadi pejabat saja kalau tidak meiliki darah pejabat atau partai politik sulitnya minta ampun, belum lagi urusan administrasi seperti halnya persyaratan tetek bengek minimal sarjana lah atau apalah.Begitu juga ingin jadi ulama atau kiyai kalau tidak memiliki nasab atau darah biru, meskipun nyundul langit ilmunya jangan berharap mimpi jadi kyai. Beda jika kita ingin jadi penulis, modal tidak banyak dikeluarkan, cukup kertas dan pena untuk coret-coret, dan yang lebih penting dalam hal menulis adalah kontinyu dan konsisten, sepandai apapun seseorang kalau tidak pernah belajar menulis atau terbiasa menulis akan kerepotan menuangkan idenya, apalagi ingin mengarang sebuah buku atau novel, mustahil akan tercapai.

Aku sendiri memulai belajar menulis sejak tahun 2001 waktu itu Aku duduk masih dikelas III setingkat SMA dan menjelang EBTANAS, ceritanya sederhana, memang masa-masa itu dan kebanyakan siswa alami dimana seseorang pelajar ingin lulus dan tidak tahu akan kemana selanjutnya, bagi mereka yang anak big bos tidak masalah, kuliah kemanapun pasti diturutin orangnya, asalkan mau bersungguh-sungguh. Hal itu sangat berlawanan dengan kondisi aku, karena keberadaanku memang tergolong orang mempunyai ekonomi standar kebawah, jadi hari-hariku aku lewati dengan merenung dan merenung, kadang nongkrong diwarung sambil memetik gitar sama teman-teman, kadang juga dikamar sambil memegang kertas dan pena, dan pada saat itulah aku mulai menuangkan kegelisahanku dan mengaplikasikan lewat puisi-puisi. memang dalam awal penulisan aku sering membuat puisi dan prosa karena aku ingin menuangkan keluan jiwaku dalam sebuah tulisan , dan setiap satu minggu atau satu bulan sekali aku lihat kembali tulisanku, ternyata dengan bertambahnya hari juga bertambah kemampuanku merangkai kata.

Ditahun kedua aku cendrung membuat prosa dan jarang membuat puisi, ya mungkin keberadaan aku saat itu gemar membaca sastra karya khalil gibran jadi ketertarikanku begitu kuat pada prosa dari pada puisi, namun setelah empat tahun kemudia karena aku sudah bergabung dengan media aku lebih sering membuat tulisan-tulisan jurnalis baik Artikel atau tulisan berbentuk Featurs. Hingga pada tahun ke tujuh yakni dimana sekarang aku menulis tulisan ini, jadi kurang lebih 7 tahun aku belajar menulis dan menulis.

Sebelum aku menulis coretan ini, aku sudah menulis untuk media selama empat tahun, dan berada di dua media, yang satu media untuk terbit enam bulan sekali dan satunya lagi dua bulan sekali, begitu banyak pengalaman pahit yang sekarang manis aku rasakan, Baik pengalaman menulis maupun pengalamn mencari data tulisan, baik melali referensi atau melaui wawancara ke tokoh-tokoh masyrakat seperti hlnya Agus MustofaBisri Rembang, Agus Marzuki pengasuh pondok pesantren Salafiyah Pasuruan, K.H Abdul Majid Siman Lamongan. Dan lain sebagainya.

Sampai saat ini karena kebetulan kondisi sangat menguntungkan untuk tetap berkarya dan berkaya melalui tulisan karena disamping keberadaanku menjaga konter juga menjaga rental komputer, jadi ketika ada waktu luang aku isi hari-hari dengan menuangkan ide kreatif dalam tulisan, baik puisi, cerpen, prosa, artikel dsb.

Meski sampai saat ini aku belum menerbitkan sebuah buku, baik kumpulan puisi atau buku yang lainnya, tapi keinginan itu belum pernah padam, karena kehidupanku sepetinya kurang sempurna dan kurang berharga kalau selama hidupku belum menerbitkan buku. aku teringat dari sya’ir khalil Gibran yang kebetulan teman-temanku menulisnya dalam sebuah kostum seragam ”Biarlah angan merangkul cita kita meski dalam sayapnya terdapat sebilah pedang menusuk” jadi apa yang dikatakan khalil gibran sebuah angan atau keinginan itu tetap Aku rangkul dan Aku dekap erat-erat meski dalam angan atau keinginan itu tedapat benda tajam yang siap melukai bahkan menusuk diri.

Memang sih seorang penulis tidak ada yang kaya dari hasil tulisannya, justru para penerbit lah ya ng rat-rata mempunyai kekayaan karena telah menerbitkan buku penulis atau pengarang. Tapi bukan berarti penulis tidak mampu membiayai kehidupannnya sendiri atau keluarganya justru penulis mendapatkan kepuasan lahir bathin yang tiada pernah rasakan orang lain selain para penulis, karena dengan menulis baik dibuku yang diterbitakan atau lewat media paling tidak karya mereka sudah di baca oleh banyak kalangan, dengan menulis mereka juga bisa berdakwa, atau menyampaikan ide kreatifnya baik ke pemerintah maupun kemasyarakat luas.

Menulis bagi Aku selain dapat memberikan kepuasan juga dapat memberikan fasilitas dimana jiwa tak lagi punya gairah menjadi semangat kembali, juga kadang menjadi hiburan. Karena dengan segala problem yang mengiringi kehidupan Aku justru ide kreatif yang belum pernah orang lain alami sudah Aku temui, maka dari itu rugi banget kalau para pembaca yang budiman hanya bisa membaca-dan membaca tanpa ada usaha menuangkan karya dalam tulisan. “Aku menulis maka aku ada” begitulah judul dari sebuah buku dari Agus Zainal Arifin Toha Yogyakarta.hingga pada saat ini aku juga sudah punya buletin dan mini magazine yang mulanya aku dirika dengan kedua kawanku. Hingga pada kongres besar mahasiswa STAIN Ponorogo. Buletin dan minimagazine kami diusulkan untuk diterbitkan oleh senat jurusan Ushuluddin. Jadi hinga sampai detik ini aku dan bersama ke dua kawanku masih aktif untuk menulis dan menerbitkannya. Inilah pengalaman nyata tanpa rekayasa. Semoga para pembaca budiman dapat memberikan masukan pada kami. Atau langsugn kunjungi kami di http://www.denologis.wordpress.com.


Responses

  1. sip-2 aku yo pengen belajar nulis sisan!! tolong di bantu ya… ^.^

  2. wah boleh nich belajar dari sampean🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: