Oleh: masdiloreng | Maret 22, 2009

Persetan demokrasi atau pesta demokrasi

Pemilu umum tinggal beberapa bulan lagi, namun sebagian masyarakat kita sudah pesimis akan arti pesta demokrasi itu. Ada keyakinan di tengah masyarakat bahwa perubahan perubahan besar akan terjadi setelah 100 hari pelantikan presiden terpilih sebagaimana yang dinginkan masyrakat saat SBY menajadi penguasa negeri ini. Jika itu benar, perubahan seperti apa yang akan terjadi atau diharapkan akan terjadi pada bangsa kita sebagai dampak (atau sugesti) dari pemilu itu?

Bagi masyarakat kecil keinginan mereka tentu tidak muluk-muluk asalkan Kesehatan mereka terjamin, penyediaan lapangan kerja tersedia, kebutuhan pupuk terpenuhi bagi para petani, BBM murah dan yang paling penting harga beras dan kedelai yang menjadi menu sehari-hari kalangan masyarakat bawah ada, sungguh ironis memang kalau kita fakir-fikir Negara yang kaya akan sumber alam, sebagai pengekspor minyak terbanyak se-Asia tapi harga minyak melangit, belum lagi negeri yang disebut lumbung atau negeri yang gemah ripa lojinawe tapi beras dan kedelai mahal, semua itu tidak akan terjadi apabila pemerintah kita kebijaksanaan memihak untuk orang kecil.
Maka jangan kaget ketika angka golput diberbagai daerah saat pemilihan Gubernur atau bupati meningkat, hal itu menandakan bahwa rakyat sudah tidak percaya lagi akan arti pemilu sebagai wujuddomokrasi, karena demokrasi salah diartikan oleh para pejabat pemerintah baik yang ada tingkat dipusat maupun ditingkat desa, merajalelanya korupsi adalah sebuah bentuk perselingkuhan para pejabat untuk memuaskan pendapatannya yang dianggap kurang.
Sungguh ironis sekali ketika masyarakat sudah menjalankan amanat demokrasi denagan meluangkan waktunya meninggalkan aktifitas sehari-hari, kadang yang diperantauan pulang kekampung untuk mengaspirasikan suaranya dengan mendatangi TPS saat pemilihan umum akan tetapi para wakil rakyat yang seharusnya sebagai pelayan masyarakat hanya bisa memperkaya diri.
Maka tidak salah ketika Gus Dur pernah melontarkan sikap Golput sebagai bentuk ketidak pecusan para ulil amri memegang amanat secara baik, baik itu dari KPU atau lembaga Yudikatif, Ekskutif, dan Legislative.lalu apa yang akan diperbuat para petinggi kita ketika masyarakat sudah hilang kepercayanya. Inilah PR yang harus diselesaikan sebagai problema kebangsaan secara bersama-sama, peran pemerintah harus bisa mengyomi masyarakatnya dan para penegak hukum harus benar-benar menegakkan supremasi hukum dengan tidak pandang bulu sesuai pelanggaran para pelaku kejahatan.insyaAllah apa yang disebut pesta domokrasi tidak lagi sebagai momok yang harus ditakuti akan ada intimidasi dari berbagai golongan yang ingin merusak tatanan demokrasi dan masyarakat secara nyaman hidup dinegeri ini tidak pesimis menghadapi pesta demokrasi bukan acuh dan cuek yang akhirnya bilang “persetan dengan demokrasi”.(Yuhseva)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: