Oleh: masdiloreng | Maret 22, 2009

Benarkah perbedaan itu Rohmat?

Meskipun lulusan dari universitas Negara bukan mayoritas muslim ide Ulil Abshar Abdallah mengenai gagasannya dalam sebuah artikelnya yang perna dimuat dikompas “menyegarkan islam kembali” patut mendapatkan apresiasi. Konsep tersebut memang dipandang kontradiksi oleh mayoritas ulama salaf. Karena dikhawatirkan akan membahayakan akidah masyarkat awam.dan gagasan tersebut dipandang minor.

Dalam sejarahnya orang-orang yang mempunyai ilmu berbeda sering kali mendapatkan tempat yang tidak layak contohkanlah al-hallaj, Siti Jenar, Mohammad Sharur, Abid-Aljabiri, Fazlurrahman dan lain sebagainya. Mereka yang kritis terhadap persoalan agama namun karena pemahamannya tidak sama dengan kehidupan mayoritas maka mereka harus rela dicap sebagai kafir, di usir dari negaranya bahkan ada yang harus wafat dipancung dan tiang gantungan, padahal nabi perna bersabda yang artinya: barang siapa yang mengkafirkan sesamanya maka dia sendiri telah kafir. Sekarang Ulil sepertinya mengalami nasib yang sama, apa jadinya bila suatu nanti ulil pulang kenegaranya Indonesia sementara para ulama sudah memfonis menghalalkan darah ulil.Sungguh tragis bukan.

Jika kebebasan berfikir dibelenggu,nalar kreatifitas harus dikurung dan buku-buku yang dianggap kontrofersi dibakar seperti gabungan Aliansi Mahasiswa Peduli Kiai (AMPK) dengan amarahnya telah membakar buku Kiai Ditengah Pusaran Politik: Antara Kuasa Dan Petaka Karya Ibnu Hajar, dialun-alun sumenep dan banyak lagi para penulis yang harus menerima caci maki Ilung S. Enha dari Surabaya pada acara bedah buku Sangkar Besi Agama, hal serupa juga dialami Muhidun Dahlan pada 2005. dengan Novelnya, Adam Hawa, disomasi Majelis Mustahidun Indonesia (MMI) pada kesempatan lain, saat berlangsung beda buku Tuhan izinkan aku menjadi pelacur! Memoar luka seorang Muslimah, dikampus UIN Malang pada Mei 2004. Muhidun dihujat habis-habisan. Bahkan seorang ustadz memfonis Muhidin telah Murtad. Jika semua itu terulang maka yang terjadi adalah pembunahan karakter dengan seperangkat aturan-aturan yang dimufakati bersama lalu kapan akan lahir Ghozali-Ghozali mutakhir ini, apa selamanya kita cukup mengekor pada ulama-ulama dulu dan berpangku tangan menikmati karya-karya mereka tanpa merekonstruksi lagi.

Saya juga heran dengan ungkapan yang seringkali kita dengar dikalangan Ulama dengan konsep almuhafadlotu ala qodimissoleh walahdu biljadidil aslah. Yaitu merekonstruksi niali yang lebih baik dan mempertahankan nilai yang dianggap baik. Tapi kayaknnya cukup menjadi symbol formalitas karena kenyataannya lain dilapangan.karena kaum muslimin belum bisa menerima pemikiran positif yang berasal dari budaya barat. Contohkanlah kesetaraan gender, Demokrasi, Filsafat, dan sebagainya yang memang kesemuayan berasal dari barat bahkan Yahudi tapi apasalahnya jika kita mengambilnya meminjam istilah Gus Dur Ambil itu telur meskipun keluar dari dubur ayam.

Yang jelas apapun sebuah gagasan atau karya kreatif meskipun terlahir dari kalangan Muslim tidak akan kekal oleh zaman kebenarannya. Karena pada hari ini benar bukan tidak mungkin besok berubah, jangankan karya manusia, wahyu Tuhan saja harus mengalami nasakh-dan mansukh apalagi karya manusia biasa. Inilah persoalan yang dihadapi umat islam sejauh ini.belum bisa menerima perbedaan dengan lapang dada.padahal bukankah kita sering mendengar ugkapan bahwa perbedaan itu rohmat. Lalu dimana rohmat bagi Ulil, arkoun,jabirr, al-Hallaj dan lain sebagainya. Jika diperlakukan secara sembarangan.bahkan mengkafirkan mereka, Padahal apa yang dilakukannya adalah tidak lain untuk memperjuang kebenaran. Dengan cara yang dianggap baik. Jika kebebasan pendapat masih terisolasi lalu sampai kapan negeri ini menikamati kemerdekaannya bukankah dalam undang-undang Dasar sudah dijelaskan bahwa siapa saja berhak mengunkapkan pendapatnya. Saya juga sempat mempunyai pemikiran yang berbeda baik mengenai Tuhan yang mungkin dianggap berbeda sama mayoritas akan jika suatu saat apa yang menjadi gagasan saya kami publikasikan sebagai ekspresi saya bahwa saya juga berhak untuk mengutarakan pendapat saya, terlepas benar dan tidak adalah wollohu A’lam, karena harus saya aku bahwa saya mempercayai Tuhan saya lantaran orang tua saya jika orang tua beragama lain dari saya sekarang tentu saya juga mengikutinya. Lalu bagaimana kita akan mencari sebuah kebenaran jika pendapat yang dianggap berbeda sudah dipasung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: