Oleh: masdiloreng | Maret 21, 2009

MengQur’ankan Hadits

Dari pendekatan Monodisipliner Menuju Multi(Inter)disipliner

Hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam, disamping Al Qur’an. Dilihat dari periwayatnya, Hadits nabi berbeda dengan al Qur’an. Al Qur’an, semua periwayat ayat-ayatnya berlangsung secara mutawatir, sedang untuk hadis nabi, sebagian bersifat mutawatir dan sebagian lagi (banyak) berlangsung secara ahad. Dengan demikian, dilihat dari segi periwayatannya, seluruh ayat Al Qur’an tidak perlu dilakukan penelitian tentang orisinalitasnuya, sedang hadis nabi, dalam hal yang bekategori ahad, diperlukan penelitian. Dengan penelitian itu akan diketahui, apakah hadis yang bersangkutan dapat dipertanggung jawabkan pertiwayatanya berasal dari nabi ataukah tidak.

Sementara dewasa ini, dari kalangan pengkajian Islam banyak yang berpendapat bahwa hadis nabi dan ilmu hadis termasuk pengetahuan yang sangat sulit. Hal ini cukup beralasan, mengingat untuk memehami hadis diperlukan pengatahuan yang mendalam baik mengenai sejarah perhimpunan, berbagai istilah dan kaidah yang dikenal dalam ilmu hadis, sertra metode penelitian sanad hadis. Kesulitan memahami hadis dan ilmu hadis tersebut tidak jarang menjadikan seseorang yang mengkaji ajaran Islam bersikap “enggan” dan bahkan menyampingkan hadis nabi.

Sebab lain, mengapa pengatahuan hadis menjadi sulit, karena hadits nabi tidak termuat hanya dalam satu kitab saja. Kitab yang memuat hadis nabi cukup banyak ragamnya, baik dilihat dari segi nama penghimpunnya, cara penghimpunannya, masalah yang dikemukakannya, maupun bobot kwalitasnya. Jadi kitab himpunan hadis nabi berbeda dengan himpunan ayat-ayat Al Qur’an, yang termuat dalam satu mushaf. Untuk membaca seluruh teks hadis nabi, seseorang memerlukan lebih dari satu kitab, dengan berbagai karakternya.

Selama ini, pemikiran keagamaan (kita) sering kali tidak bisa membedakan antara aspek doctrinal-teologis ajaran agama-agama dengan aspec cultural-sosiologis yang merupakan hasil dari penafsiran dan interprestasi atas ajaran-ajaran agama (Al Qur’an dan hadis). Persoalan ini telah memperumit masalah keagamaan pada wilayah historisitas kemanusiaan. Umat beragama akhirnya sulit membedakan antara mana yang doktrin yang bersifat normative, yang biasa dilandasi oleh Teks Suci dan mana yang disebut interprestasi seseorang atau kelompok terhadap doktrin yang sering kali dimuati dan tercampur oleh kepentingan-kepentingan cultural-sosiologis-politis. Pemikiran apriori, pranggapan, prasangka dan praduga teologis tumbuh subur dalam kehidupan masyarakat luas. Hal ini, tidak hanya sekedar hubungan personal dan kelompok, tetapi telah masuk dalam wilayah ketumpang tindihan antara teks dan realitas. Dalam hal ini, Muhammad Arkoun mengatakan, sudah saatnya kita, (umat Islam) untuk mempromosikan “pluralisme pemikiran keagamaan” untuk bisa memunculkan wacana keagaman Islam yang inklusif, dialogis dan humanis.

Kenyataan ini semakin terbukti, dengan melihat studi hadis yang tetap menjadi sebuah bidang yang sangat rigid, kaku,dan sensitive. Sejak awal, studi hadis menjadi bidang yang monodisipliner. Pendekatan yang dianggap sah adalah kritik sanad (naqd al sanad) dan kritik matan (naqd al matan), itupun dengan aturan-aturan yang cukup ketat. Kritik sanad menekankan pada penilaian negative atau positif (al jahr wa al ta’dil), dalam hal keadilan, kajujuran dan kekuatan hafalan terhadap perowi suatu hadis sejak dari sahabat sampai perowi terakhir. Kenyataan ini dibantah oleh Joseph Schach dengan Teori Projecting Back-nya, dengan mengatakan,”stidi sanad (kritik sanad) hanyalah sekedar aktifitas kolusi, penyandaran periwayatan pada tokoh-tokoh agar menjadikan sanad tidak cacat. Sedang kritik matan lebih berfokus pada masalah tanda baca, seperti titik, fathah-dhamah-kasrah,dan tidak menyentuh pada konten (isi), karena yang terakhir ini masuk dalam wilayah lain, yakni syarahi (komentar). Dalam pengertian ini, sudah seharusnya era kritik sanad dan matan dianggap telah selesai. Tetapi pada kenyataannya tidak. Studi hadis lebih menekankan pada “pengulangan-pengulangan” ketimbang ‘pengembangan”.

Teks hadis disadari ataupun tidak, seakan-akan telah menjadi lebih suci ketimbang teks Qur’an itu sendiri. Mengapa teks Qur’an bisa disekati dengan berebagai pendekatan, sedangkan teks hadis tidak?

Menurut Nur Ichwan MA. Sebagaimana studi Qur’an, studi hadistpun dapat dibagi menjadi tiga level utama :

1. Kajian terhadap teks hadits dalam hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW. Hal ini terjadi pada, misalnya, kritik sanad yang menguji apakah suatu hadits benar-benar dari Nabi, dengan cara mengkaji kredibilitas para perowinya. Analisis sebenarnya bisa diaqrahkan pada aspek-aspek psikologis Nabi ketika menyampaikan hadits qouli atau melakukan suatu tindakan (fi`li) ataupun sikap (taqriri).

2. Kajian terhadap teks hadits itu sendiri. Hal ini terkait dengan, misalnya, kritik matan, pengkajian terhadap kitab-kitab hadits, dan “aktivitas” pensyarahan yang dilakukan oleh pensyarah atau pengkaji. Mengapa”syarah”? dari sini, dirasa perlu dikembangkan “ suatu hermenetik hadits”, yakni teori dan metodologi penginterprestasian teks-teks hadits secara lebih komperhensif dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan antara Nabi Muhammad (penulis), teks hadits, dan penbaca/ penafsir.

3. Kajian terhadap teks hadits dalam kaitannya dengan masyarakat pembaca/penafsirnya. Hal ini, terjadi pada wilayah pengkajian atas “produk” syarah ( kitab-kitab syarah ). Pada kajian level ketiga ini belum dikembangkan sama sekali.

Kenyataannya, kita memang masih sulit untuk mendapatkan contoh-contoh yang representatif bagi upaya rekrontoksi Nalar Studi Hadits ini, karena upaya terhadapnya masih merupakan hal yang secara teologis`”sensitive”. Bahkan lebih sensitive dari pada nalar studi Al Qur`an. “Solidaritas disiplin lama”.tidak mudah untuk diruntuhkan, kendala teologis ini tentu harus diatasi. Oleh karena itu semua upaya dikontruksi – rekontruksi nalar studi hadits ataupun Qur`an ini harus dimulai dengan komitmen dan keimanan. Keimanan religius itu tidak menghalangi sikap kritis, sepanjang itu merupakan sebuah upaya pencarian kebenaran . karena mustahil Allah sang kebenaran (Al Haqq ), bersikap kontradiktif terhadap pencarian kebenaran manusia. “ keimanan yang kritis” atau teilogi kritis, itu justru akan dapat membersihkan keimanan itu sendiri dari “ berhala-berhala kesucian” yang merupakan ciptaan dan kontruksi manusia yang bukan merupakan “ kesucian yang suci “. Karena sering kali berhala-berhala kesucian itu, secara sengaja atau tidak dibalutkan secara berlapis-lapis pada kesucian yang suci itu, sehingga yang terakhir ini menjadi tertutup dari pandangan dan sulit dikenali. Bagaimana ?


Responses

  1. […] MengQur’ankan Hadits […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: